Infopaser.id

Sikap diam teman Tuli terkadang disalahartikan sebagai keengganan untuk berinteraksi. Istilah teman Tuli digunakan dalam komunitas untuk menyebut individu Tuli, sementara masyarakat yang dapat mendengar biasa disebut sebagai teman dengar.

Padahal di balik keterbatasan komunikasi tersebut, keinginan untuk menyapa dan berbincang dengan teman dengar tetap ada. Untuk menjembatani permasalahan ini, Komunitas Tuli (KT) Paser mengajak masyarakat mengenal dan mempraktikkan dasar-dasar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di ruang publik. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih dekat antara teman Tuli dan teman dengar.

Ketua Komunitas Tuli (KT) Paser Daniya mengatakan, perbedaan cara berkomunikasi masih menjadi salah satu hambatan dalam interaksi antara teman Tuli dan masyarakat umum.

“Hambatan utamanya itu miskomunikasi dan ketidakpahaman. Sering kali saat teman Tuli memilih diam, malah disalahartikan. Padahal sebenarnya kami ingin sekali menyapa dan ngobrol dengan teman-teman dengar, cuma masyarakat umum sering bingung atau enggan memulai,” ungkap Daniya melalui seorang Juru Bahasa Isyarat. 

Kondisi tersebut mendorong KT Paser untuk membuka ruang interaksi dengan masyarakat melalui pembelajaran Bisindo. Kegiatan dilakukan di ruang publik agar teman Tuli dan teman dengar dapat bertemu serta berkomunikasi dalam suasana yang lebih terbuka.

Salah satunya dilakukan di Hutan Kota Tanah Grogot. Masyarakat diajak mengenal sekaligus mempraktikkan dasar-dasar Bisindo secara langsung bersama komunitas.

Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari remaja, mahasiswa, hingga orang tua turut menyaksikan kegiatan tersebut. Sebagian kemudian ikut bergabung dan mencoba mengikuti gerakan bahasa isyarat yang diperagakan oleh instruktur Tuli.

Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami bahwa komunikasi tidak selalu berlangsung melalui suara. Gerakan tangan, ekspresi wajah, dan tatapan juga dapat menjadi bagian dari komunikasi ketika kedua pihak memiliki kemauan untuk saling memahami.

Daniya berharap semakin banyak masyarakat yang bersedia mengenal Bisindo dan membuka komunikasi dengan teman Tuli. Dengan semakin terbukanya interaksi, keterbatasan cara berkomunikasi diharapkan tidak lagi menjadi penghalang bagi kedua kelompok untuk bersosialisasi di ruang publik.

“Harapan terbesar kami sederhana saja, semoga makin banyak teman dengar yang mau bergabung dan tidak ragu untuk berinteraksi dengan Komunitas Tuli,” tutupnya.

Iklan