Pelajar asal Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Arcelona Arta Waya Yasin (10), membawa tradisi sastra lisan Paser hingga ke tingkat nasional. Siswi kelas V SDN 002 Long Ikis ini tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Nasional 2026 di Jakarta pada bulan Mei 2026 lalu.
Arcelona membawakan Betoreh, tradisi sastra lisan berupa pantun atau syair bertutur khas masyarakat Paser. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan dahulu kerap digunakan saat gotong royong di ladang maupun musim panen. Betoreh juga menjadi media hiburan, komunikasi, serta penyampaian nasihat.
“Awalnya saya diajak ikut lomba Betoreh. Karena hampir mirip dengan bernyanyi, jadi saya coba ikut dan alhamdulillah bisa sampai tampil di tingkat nasional,” kata Arcelona, Selasa (11/8/2026).
Perjalanan Arcelona hingga tampil di Jakarta dimulai dari kompetisi tingkat daerah. Pada 2025, ia belum berhasil menjadi juara setelah bersaing dengan peserta dari Penajam Paser Utara. Arcelona kemudian kembali mengikuti kompetisi pada tahun berikutnya.
Setelah melalui latihan bersama guru pembimbingnya, Siti Komariah, Arcelona berhasil menjadi juara di tingkat Paser-Penajam Paser Utara. Ia kemudian melanjutkan kompetisi ke tingkat Provinsi Kalimantan Timur dan kembali menjadi juara hingga mendapat kesempatan tampil di FTBI Nasional.
Arcelona mengaku baru mulai mempelajari bahasa Paser setelah mengikuti kegiatan di sekolah. Meski memiliki garis keturunan Paser dari ayahnya, bahasa tersebut sebelumnya belum banyak ia kuasai. Ketertarikannya kemudian tumbuh setelah mempelajari Betoreh.
Saat tampil di Jakarta, Arcelona ikut dalam rangkaian penampilan tingkat nasional dan masuk dalam 12 Anak Bertalenta Nasional. Penampilannya memadukan Betoreh dengan tarian.
Siti Komariah berharap pengalaman Arcelona dapat mendorong anak-anak di Paser untuk mengenal bahasa daerah sejak dini.
“Saya bercita-cita anak-anak kita sejak dini bisa mengenal dan fasih berbahasa Paser dan diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser, Surfiani, menyebut keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa Paser.
“Penampilan Arcelona ini jadi bagian upaya pelestarian Bahasa Paser agar bisa terus eksis dan tidak terancam punah,” tutupnya.







