Infopaser.id

Tiga pelajar SMAN 1 Tanah Grogot berhasil mencuri perhatian dalam lomba Stand Produk Kreatif Pemuda tingkat Kabupaten Paser lewat inovasi pot tanaman pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang dibuat dari limbah batok kelapa.

Mereka adalah Kamal Achmad Rafa Salaam, Aden Yaya Firdaus, dan Rahma Raudhatul Aulia. Berkat inovasi tersebut, ketiganya sukses meraih juara dalam kompetisi tingkat kabupaten itu.

Ide pembuatan pot pintar tersebut bermula dari keresahan guru pembimbing mereka yang kesulitan merawat tanaman hias saat cuaca panas melanda.

“Beliau suka tanaman hias, tapi sering kewalahan menyiram setiap hari,” ujar Kamal saat ditemui di stan pameran, Senin (25/5).

Meski menggunakan batok kelapa sebagai bahan utama, pot tersebut telah dilengkapi teknologi modern berupa sensor kelembaban tanah yang terhubung ke aplikasi di ponsel pintar.

Saat kondisi tanah mulai kering, sensor akan mengirimkan data ke sistem dan pompa mini otomatis menyiram tanaman hingga tingkat kelembaban kembali normal.

“Kalau tanah sudah basah, penyiramannya berhenti sendiri. Jadi lebih hemat air,” kata Aden.

Selain membantu perawatan tanaman, pemanfaatan batok kelapa juga dinilai mampu mengurangi limbah organik yang selama ini banyak terbuang. Menurut Rahma, bahan tersebut cukup mudah ditemukan di Tanah Grogot namun belum banyak dimanfaatkan.

“Daripada jadi sampah, lebih baik dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Sebelum berhasil meraih juara, ketiga pelajar tersebut sempat gagal dalam ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia yang digelar Pusat Prestasi Nasional. Saat itu mereka menggunakan pelepah sawit sebagai bahan utama produk serupa.

Kegagalan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi. Mereka mengganti material menjadi batok kelapa yang lebih kuat dan menambahkan sistem IoT hingga akhirnya berhasil menarik perhatian dewan juri tingkat kabupaten.

Menurut mereka, inovasi tersebut cocok diterapkan di daerah beriklim panas seperti Kalimantan karena pemilik tanaman tetap bisa memantau kondisi tanaman melalui gawai meski sedang berada di luar rumah.

“Jadi saat ditinggal sekolah atau liburan, tanaman tetap terawat,” ujar Rahma.

Iklan