Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merambah aktivitas pendidikan di Kabupaten Paser. Sejumlah sekolah di Kecamatan Long Ikis mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk mengurangi risiko paparan udara tidak sehat terhadap siswa.
Penerapan PJJ di Paser masih dilakukan secara terbatas dan belum berlaku di seluruh wilayah kabupaten. Sekretaris Dinas Pendidikan Kalimantan Timur Rahmat Ramadhan mengatakan, Long Ikis menjadi wilayah di Paser yang telah terinformasi menerapkan pembelajaran dari rumah.
“Untuk di Paser ini baru terinfo hari ini, khusus di Long Ikis. Jadi bukan semua. Kecuali yang Kabupaten Berau, itu hampir semua, mungkin seluruh kabupatennya,” ujarnya Senin, (31/8).
Perubahan metode pembelajaran tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah.
Kualitas udara dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dalam ketentuan tersebut, ISPU 101–200 masuk kategori tidak sehat sehingga pembelajaran tatap muka perlu dibatasi. Ketika ISPU berada pada rentang 201–300 atau sangat tidak sehat, pembelajaran tatap muka dihentikan sementara dan dialihkan menjadi PJJ. Sementara itu, ISPU di atas 300 masuk kategori berbahaya sehingga seluruh kegiatan berkumpul di satuan pendidikan dihentikan.
“Dari surat edaran itu bahwa melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota masing-masing. Itu sudah ada indikatornya. Untuk yang indikatornya sampai 300-an ke atas itu otomatis memang harus belajar dari rumah,” jelas Rahmat.
Di tengah penerapan PJJ, keselamatan siswa dari paparan asap dinilai tetap harus menjadi prioritas. Namun peralihan pembelajaran ke rumah juga perlu memperhitungkan keberlanjutan proses belajar karena tidak semua siswa memiliki kondisi dan akses yang sama.
Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mengingatkan agar kebijakan pembelajaran dari rumah tidak justru membuat sebagian siswa tertinggal dalam mengikuti pelajaran.
“Jangan sampai kita berhasil melindungi anak dari paparan asap tetapi tanpa disadari membuat sebagian dari mereka tertinggal dalam belajar,” kata Hetifah melalui keterangan tertulis (1/9).
Menurut Hetifah, metode pembelajaran tidak dapat disamaratakan untuk seluruh siswa. Kondisi akses internet, kepemilikan perangkat, hingga lingkungan tempat tinggal perlu menjadi pertimbangan selama pembelajaran dilakukan dari rumah.
Dengan mulai diterapkannya PJJ di Long Ikis, dampak karhutla di Paser tidak lagi hanya berkaitan dengan kebakaran lahan dan kualitas udara tetapi juga telah menyentuh aktivitas pendidikan. Perlindungan kesehatan siswa perlu berjalan beriringan dengan upaya memastikan proses belajar tetap dapat diakses selama kondisi udara belum memungkinkan pembelajaran tatap muka berlangsung normal.







