Angka kemiskinan Kalimantan Timur tercatat turun menjadi 5,14 persen pada Maret 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, Serikat Buruh Samarinda menilai angka tersebut belum menggambarkan kondisi yang mereka temui di lapangan.
Ketua Serikat Buruh Samarinda, Yoyok Sudarmanto, mengatakan kondisi ekonomi pekerja masih menghadapi tekanan. Daya beli dinilai belum membaik karena pengeluaran rumah tangga terus bertambah, mulai dari kebutuhan pokok, BBM, tarif air dan listrik, hingga biaya transportasi.
“Kondisi ekonomi dan daya beli saat ini tidak baik-baik saja,” kata Yoyok, Kamis (13/8/2026).
Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi pekerja yang menjadi perhatian serikat buruh. Yoyok menyebut masih ada pekerja yang belum menerima upah sesuai ketentuan. Pengawasan terhadap penerapan upah juga dinilai belum optimal.
Persoalan lain datang dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor. Bagi pekerja, kehilangan pekerjaan berarti hilangnya sumber pendapatan keluarga. Dampaknya dinilai semakin berat ketika perlindungan sosial setelah PHK belum berjalan optimal.
Kondisi lapangan tersebut membuat Serikat Buruh mempertanyakan penggunaan garis kemiskinan sebesar Rp935.662 per kapita per bulan sebagai gambaran kondisi masyarakat Kaltim. Nilai itu dianggap tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dikeluarkan masyarakat saat ini.
“Penilaian BPS tidak masuk akal dan tidak manusiawi di era seperti ini,” ujar Yoyok.
Serikat buruh menilai, kebutuhan hidup layak pekerja di Kaltim saat ini diperkirakan berada pada kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan. Perhitungan itu tidak hanya melihat kebutuhan untuk bertahan hidup, tetapi juga keberlangsungan hidup pekerja dan keluarganya.
Perbedaan antara catatan statistik dan kondisi yang disampaikan pekerja menjadi sorotan dalam melihat tingkat kesejahteraan di Kaltim. Penurunan persentase kemiskinan belum tentu menggambarkan seluruh tekanan ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok pekerja yang menghadapi kenaikan biaya hidup, persoalan upah, hingga risiko kehilangan pekerjaan.







