Infopaser.id

Infopaser.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan bagi warga Kabupaten Paser. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 243 warga di Kabupaten Paser terjangkit DBD. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya mitigasi belum sepenuhnya menekan risiko penularan penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paser, Amri Yulihardi, menyampaikan bahwa lonjakan kasus terjadi pada pertengahan tahun. Pada Mei 2025 tercatat 40 kasus, kemudian meningkat menjadi 51 kasus pada Juni.

“Puncak kenaikan kasus DBD terjadi sampai dengan Juni, kemudian kasusnya mengalami penurunan signifikan hingga akhir tahun,” ungkapnya, Kamis (8/4).

Berdasarkan sebaran wilayah, kasus DBD paling banyak ditangani oleh Puskesmas Suliliran Baru di Kecamatan Paser Belengkong dengan total 79 kasus. Sementara itu, Puskesmas Tanah Grogot di Kecamatan Tanah Grogot mencatat sebanyak 46 kasus DBD sepanjang 2025.

Meningkatnya tren kasus tersebut mendorong pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan DBD yang ditujukan ke seluruh kecamatan. Hingga Januari 2026, Dinas Kesehatan Paser juga masih menyurati masing-masing puskesmas agar tetap waspada terhadap potensi peningkatan kasus.

“Untuk sekarang mulai Januari kami masih menyurati ke masing-masing Puskesmas supaya waspada terhadap DBD,” kata Amri.

Upaya pencegahan yang terus digencarkan antara lain melalui himbauan gotong royong pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan langkah 3M, yakni menguras, menutup, dan mengubur. Menurut Amri, kesadaran masyarakat menjadi faktor kunci dalam mencegah berkembangnya jentik nyamuk, terutama dari tumpukan sampah dan genangan air di lingkungan permukiman.

Ia juga menegaskan bahwa faktor cuaca bukan satu-satunya pemicu meningkatnya kasus DBD. Penampungan air yang tidak tertutup dan perilaku masyarakat dinilai turut berperan dalam menciptakan tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Mungkin juga dari penampungan air warga yang tidak tertutup, jadi bukan hanya cuaca, tapi bisa dari perilaku kita yang menyebabkan genangan air,” kata Amri.

Terkait tindakan fogging, Amri menjelaskan bahwa langkah tersebut tetap dilakukan apabila ditemukan minimal dua kasus DBD dalam satu wilayah. Namun, fogging dinilai hanya bersifat sementara karena tidak membasmi jentik nyamuk sebagai sumber utama penularan, sehingga gerakan PSN tetap menjadi solusi utama dalam pencegahan DBD.

Iklan