Infopaser.id

Terlantar 10 Tahun! Terminal KM 7 Tepisan Batang, Tanah Grogot Kini Semakin Memprihatinkan

Terlantar 10 Tahun! Terminal KM 7 Tepisan Batang, Tanah Grogot Kini Semakin Memprihatinkan

Para sopir angkutan umum di Terminal Kilometer 7 Tanah Grogot, mengeluhkan sepinya penumpang dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menduga ada dua penyebab. Pertama, kondisi fasilitas terminal yang buruk dan hadirnya transportasi online maupun sopir travel. 

Salah satu sopir jurusan Tanah Grogot-Penajam, Trunojoyo (64) mengatakan bahwa selama 30 tahun beroperasi pendapatannya terus menurun. Terutama dalam beberapa tahun terakhir. Dia menyebut penurunan pendapatan dikarenakan persaingan dengan transportasi online serta kondisi terminal yang kurang memberi kenyamanan penumpang. 

Pria yang akrab dipanggil Joyo ini juga mengatakan, pendapatannya bahkan merosot sampai 60 persen. Tak hanya soal pendapatan, dia menyoroti buruknya fasilitas terminal khususnya ruang tunggu penumpang yang dianggap tidak memadai. 

“Kalau dibandingkan dengan terminal lama yang berada di kilometer 4, fasilitas di sana jauh lebih bagus bahkan lumayan lengkap. Di sini untuk ruang tunggu saja seadanya,” kata Joyo, Rabu (2/7/2025). 

Trunojoyo menilai kondisi fasilitas Terminal KM 7 perlu segera mendapatkan perhatian dan peningkatan dari pihak terkait. Ia meyakini jika terminal ditata lebih baik dan nyaman, maka jumlah penumpang berpotensi meningkat karena mereka akan merasa lebih aman dan layak untuk menunggu keberangkatan.

Salah satu contohnya terminal tipe B yang berada di Kilometer 7 ini dibangun pada tahun 2014 untuk menggantikan terminal lama di Kilometer 4. Setelah hampir satu dekade berlalu, kondisi terminal justru semakin memprihatinkan. Banyak fasilitas yang rusak dan tidak terawat sehingga fungsinya sebagai simpul transportasi pun merosot. 

Kondisi Terminal KM 7 Tepisan Batang saat ini mencerminkan kurangnya perhatian terhadap infrastruktur transportasi publik di Tanah Grogot. Meski telah dibangun untuk menggantikan terminal lama, terminal ini justru mengalami kemunduran dalam hal pelayanan dan fasilitas. 

Keluhan dari para sopir, seperti Joyo menjadi indikator penting bahwa revitalisasi dan peningkatan sarana prasarana sangat dibutuhkan. Tanpa langkah perbaikan yang konkret, potensi terminal sebagai simpul mobilitas masyarakat dan penggerak ekonomi lokal dikhawatirkan akan terus menurun.

Iklan