Dampak Asap Karhutla Semakin Memburuk, Sekolah di 6 Kecamatan Paser Direkomendasikan Belajar dari Rumah

Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak pada kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Paser. Sekolah di enam kecamatan direkomendasikan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) hingga kondisi udara membaik.
Enam wilayah tersebut meliputi Kecamatan Muara Komam, Muara Samu, Batu Sopang, Kuaro, Long Ikis, dan Long Kali.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Paser Nomor B/400.3/2322/PK.7/IX/2026 tentang Penyesuaian Kegiatan Belajar Mengajar Terkait Kualitas Udara yang ditandatangani Kepala Disdikbud Paser M. Yunus Syam pada 18 September 2026.
Penyesuaian kegiatan belajar dilakukan setelah hasil pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Paser menggunakan Sanitarian Kit sejak 15 September 2026 menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah puskesmas melampaui standar baku mutu yang mengacu pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.
Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di empat kecamatan lainnya masih berlangsung secara tatap muka. Wilayah tersebut yakni Kecamatan Tanah Grogot, Paser Belengkong, Batu Engau, dan Tanjung Harapan.
Sekolah yang masih melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) diminta menerapkan protokol kesehatan lebih ketat. Siswa dan guru diwajibkan menggunakan masker, minimal masker medis.
“Pihak sekolah dianjurkan menyediakan masker cadangan bagi siswa yang membutuhkan,” kata Yunus, Senin (22/9/2026).
Selain penggunaan masker, tenaga kependidikan diminta aktif memantau kondisi kesehatan pernapasan siswa. Apabila ditemukan gejala gangguan pernapasan, sekolah diminta segera berkoordinasi dengan puskesmas terdekat.
Penerapan PJJ maupun PTM tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kualitas udara di masing-masing wilayah. Sekolah yang saat ini menjalankan PJJ dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka apabila kondisi udara telah membaik.
Sebaliknya, apabila kabut asap memburuk di kecamatan yang masih melaksanakan PTM, sekolah diminta menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi di lapangan. Siswa dapat dipulangkan lebih awal, aktivitas di luar ruangan dibatasi, hingga pembelajaran dialihkan menjadi PJJ.
Dampak karhutla di Paser kini tidak lagi sebatas kebakaran lahan. Kabut asap yang ditimbulkan mulai memengaruhi aktivitas masyarakat hingga memaksa penyesuaian kegiatan belajar di sejumlah kecamatan. Di tengah kondisi tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Tanah Grogot Hary Palar menyoroti faktor manusia yang disebut masih banyak memicu kejadian karhutla dan mendorong penindakan terhadap pelaku pembakaran lahan.
Praktik membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar disebut masih ditemukan oleh oknum masyarakat karena dinilai lebih cepat dan membutuhkan biaya lebih murah. Selain itu dugaan keterlibatan pelaku pembakaran dari pihak-pihak tertentu di luar masyarakat, seperti kalangan oknum pengusaha tidak bertanggung jawab turut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Paser.






